PENGAKUAN GANJAR TENTANG KASUS E-KTP

    0
    45
    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan penghargaan kepada Pemprov Jawa Tengah, sebagai pemerintah daerah dengan tingkat kepatuhan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) terbaik tahun 2017.

    Saya dituduh terima duit Rp 5 milyar. Ternyata yang nuduh
    saya cuma seorang: Nazarudin. Ketika saya diperiksa, Penyidik bertanya apakah saya dikasih uang? Lalu saya tanya: Siapa yang kasih saya uang? Saya dikasih berapa? Dimana saya dikasih? Kalau itu bisa disampaikan, barangkali saya lupa kalau saya mungkin pernah dikasih, dan saya nggak ngaku. Tolong diingatkan. “Kalau gitu anda saya konfrontasi, ya?” Silakan. Pada saat menunggu yang mau dikonfrontir itu lah penyidik ngomong: “Pak ganjar, kenapa kok Anda beberapa kali dikasih itu, Anda tolak?” Lho, berarti kan (penyidik KPK) sudah tahu jawabannya. Akhirnya datanglah Miryam Haryani Lalu ditanya oleh penyidik:

    + “Bu, ini pak Ganjar siap buka- bukaan. Silakan anda cerita. Anda kasih duit berapa untuk pak Ganjar?”

    _ “Pak Ganjar tidak pernah saya kasih.”

    + “Lho Anda kan setiap mau reses bagi duit? Dan Anda konsultasi dulu dengan pimpinan, dan pak Ganjar salah satu pimpinan.”

    _ “Pak Ganjar pokoknya tidak (terima).”

    + “Lho, kok tidak apa?”

    _ “Pokoknya tidak!”

    Terus saya ngomong gini (ke Miryam): Bu, jujur aja. Mungkin anda pernah ngasih uang saya, dimana, berapa?

    _ “Nggak, pak Ganjar nggak.”

    + Lho, kenapa yang lain dikasih, Pak Ganjar nggak?

    _ “Saya itu takut sama pak Ganjar”.

    + Kamu takut apa?

    Lalu si Miryam Haryani mengatakan begini pada penyidik: “Pak, kan saya sudah menyatakan semua di BAP saya.” Saya diperiksa KPK cuma sekali. Karena pemeriksaan berikutnya aku cuma tanda tangan thok, isinya sama persis. Akhirnya setelah Miryam bicara: Tidak, tidak! selesai, ya sudah. Andi Narogong (pengusaha tersangka kasus e-KTP) juga bilang tidak, tidak. Pada saat dipersidangan untuk saksi Irman dan Sugiarto, diceritakan semua proses penganggarannya. Tiba-tiba pengacaranya bilang begini:

    + “Pak Ganjar, saudara dikasih uang 5 milyar.

    _ Yang ngasih siapa?

    + Ini diberitanya ada, kalau nggak salah yang ngasih namanya Andi Narogong.”

    _ Dimana ngasihnya?

    + “Diruangannya bu Mustokoweni.”

    _ Kapan itu?

    + Sekitar bulan September-Oktober.”

    Saya sampaikan bahwa Bu Mustokoweni sudah meninggal bulan Juni. Berarti memberikan ditempat dan waktu yang keliru.

    Yang kedua: “Saya lihat Ganjar bawa amplop.” Lha, 5 milyar di amplop itu berapa tebalnya? Sisi berikutnya, Ganjar bawa tas. Tase sepiro gedene? Ganti-ganti penjelasannya. Maka inkonsistensi ini berlanjut sampai hari ini. Siapa yang kasih: Andi Narogong. Nah, pada saat kesaksian di persidangan, Andi Narogong secara eksplisit, bahkan ada videonya, dia mengatakan: “Saya tidak pernah ngasih Ganjar”. Eksplisit, Ganjar, dia sebut!

    (Ganjar menunjukan BAP – BAP pemeriksaan saksi-saksi kasus e-KTP) Ini penyidiknya, yang meriksa ini (tertulis nama salah satu penyidik senior KPK).

    Ini bagi-baginya. (tertulis nama-nama yang terima dengan besaran uangnya. (Nama Ganjar tidak ada). Penyerahan pertama USD 100 ribu, setiap anggota, setiap Kapoksi, setiap pimpinan dikasih sekian. Angkanya beda dengan yang disebutkan disana. Ada anggota yang diberi lewat Kapoksi. Siapa saja? (Ganjar menunjukan nama- nama penerima yang distabilo di BAP).

    Ada sembilan nama penerima. Fraksinya apa? Hampir semua. Yang menarik ini (pengakuan salah satu saksi yang tertulis di BAP). Saksi itu bilang saya juga menyerahkan ini kepada empat pimpinan. Siapa saja? Ini dari partai ini. Yang menarik, ini saya stabilo: diberikan pada saya. Yang menarik, tertulis: Ganjar menolak lalu saya serahkan kepada X. Dan ini terjadi beberapa kali.

    Waktu bersaksi di pengadilan, saya sampaikan kepada hakim. Semua saksi kan seragam bilang: apakah saudara dikasih uang: tidak. Apakah anda tahu: tidak. Apakah saudara pernah ditawari: tidak! Semua mengatakan itu. Hakim bertanya ke saya: “Apakah saudara pernah dikasih uang?” “Ditawari begitu? iya. “Anda terima?” Tidak! “Siapa yang ngasih uang?” bu Mustokoweni. “Anda ditawari berapa?” Oh, nggak, dia nggak nawari. Dia hanya bilang dari jauh: “Dek iki jatahmu (Ganjar menirukan ucapan Mustokoweni). Jatah? Apakah yang lain sudah terima? “Sudah. Lha terus iki gimana?” Dia bilang begini: ‘ya udah, nggak usah aja.” Tapi sumber duitnya dari mana, tidak pernah dia sebutkan. Dia hanya bilang: “ini ada jatahmu.” Terus saya bilang: pek’en!. Terus saya dipertanyakan: kenapa Anda nggak lapor. Wah, kalau tahu kayak gini ya tak laporin. Jadi saya mungkin orang yang mengakui: iya ditawari. Tapi saya tolak?

    Ganjar Pranowo menerima penghargaan tingkat kepatuhan LHKPN terbaik untuk ketiga kalinya secara berturut-turut yang diserahkan Wakil Ketua KPK Laode M Syarief, dalam rangkaian peringatan Hari Antikorupsi sedunia (Hakordia) 2017, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa 12/2/2017. (Dok. DPP PDI Perjuangan)

    Itu saya sampaikan di persidangan! Di BAP juga saya sampaikan. Artinya apa? Saya mau jujur. Itu aja. Bahwa iya, saat itu ada orang yang nawarin. Namanya Bu Mustokoweni. Kelak kemudian hari ternyata ada pemeriksaan ini dan nama Bu Mustokoweni disebut dimana-mana. Berarti kan bener, saya itu. Apakah Anda pernah mendapatkan yang lain-lain? Ada! Saya lagi berdiri tiba-tiba ada orang ngasih goody bag. Saya pikir buku, saya terima. Begitu saya buka, kok bungkusannya aneh. Langsung saya kembalikan. Anda tanya? Nggak tanya saya. Spontan aja karena lagi ada rame-rame. Siapa orangnya? Ini misterius, nggak kenal kok. Untung nggak saya terima. Jadi kalau saya mau berbuat tidak jujur, kan lebih baik saya mengatakan: tidak!

    Jadi penjelasannya sederhananya begini: tuduhannya hanya oleh satu orang. Waktu dan tempatnya keliru. Orang yang dituduh memberi, itu tidak ngaku kalau pernah ngasih saya. Terakhir berdasarkan pengakuan di BAP, ini ada empat, menyatakan saya tidak terima.

    BUDIONO