NASIONALIS RELIGIUS BERSATU NEGARA KONDUSIF

0
45

Pemilihan sosok Taj Yasin Maimoen sebagai Calon Wakil Gubernur Jateng adalah sebuah kejutan. Tidak banyak yang menduga pria yang akrab disapa dengan Gus Yasin ini akan mendampingi Mas Ganjar sebagai Cawagub dalam Pilgub 2018. Banyak juga kader PDI Perjuangan yang bertanya-tanya, siapakah Gus Yasin? Tak kenal maka tak sayang, begitu kata sebuah pepatah. Nah, untuk menjawab hal tersebut reporter Derap Juang, Fito Akhmad Erlangga mewawancarai Gus Yasin. Selamat mengenal Gus Yasin lebih dalam.

Ganjar Pranowo dan Gus Yasin menerima surat keputusan rekomendasi pencalonan
Cagub dan Cawagub Jateng dari Partai Persatuan Pembangunan di Kantor DPW PPP Jawa Tengah (8/1/2018)

Partai telah merekomendasikan Ganjar – Yasin. Bagaimana Gus Yasin menyikapi pilihan PDI Perjuangan tersebut?

Menurut saya, ini pilihan yang luar biasa, yang menyatukan dua elemen besar di Jawa Tengah, nasionalis-religius. Meski berbeda latar belakang, kita adalah satu bangsa, satu negara. Ketika negara punya hajat besar, ketika negara harus dipertahankan, kita pikul bersama.

Namun saat ini ada kelompok yang ingin membenturkan kalangan nasionalis dan ummat Islam. Bagaimana Gus menilai hal ini?

Di dalam ajaran Islam, ada yang namanya rahmatan lil alamin. Islam untuk semesta alam. Jadi Islam mengajarkan untuk saling menyayangi dan saling mengasihi. Jadi tidak boleh dibenturkan. Apalagi sejarah mengajarkan bahwa hubungan antara kaum nasionalis dan kaum religius sangat dekat. Di keluarga besar kami, yang santri, ada juga kakek saya yang dahulu jadi juru kampanye PNI (cikal bakal PDI dan PDI Perjuangan, red). Para tokoh NU terdahulu, seperti Mbah Kiyai Wahab (Hasbullah) berhubungan baik dengan PNI. Kemudian, ayahanda Mbah Moen juga bersahabat dengan Bu Mega sejak lama. Saya meyakini apabila kaum nasionalis dan religius bersatu, negara akan kondusif.

Mas Ganjar dan Gus Yasin menaiki delman diiringi pawai kader partai dan simpatisan menuju ke Kantor KPUD Jawa Tengah (9/1/2018). (Dok. Johan Ies Wahyudi)

Dinamika di lapangan, masih ada yang menyudutkan PDI Perjuangan dengan fitnah isu PKI, kafir, dan sebagainya. Sebagai darah biru NU, apa tanggapan dan pesan Gus Yasin untuk masyarakat terkait hal tersebut?


Ganjar Pranowo bersama GusYasin usai sholat Dzuhur
berjamaah di Masjid Al-
Musafirin, Panti Marhaen,
Semarang. (9/1/2018)

Di pesantren kami diajarkan untuk tidak boleh berprasangka (dzon). Apalagi berprasangka buruk (suudzon), sangat tidak boleh. Jika ada yang bilang bahwa PDI Perjuangan itu PKI atau mirip atau keturunan PKI, itu pendapat yang sangat-sangat tidak tepat. Lha wong PKI itu sudah habis kok. Lha wong di PDI Perjuangan yang santri juga banyak; yang NU banyak; yang Muhammadiyah banyak; yang berlatar belakang ormas atau organisasi Islam lain juga banyak. Jadi sudahlah, isu PKI tidak usah ditiup-tiup lagi. Islam melarang prasangka buruk. Islam melarang fitnah.

Adakah pesan khusus dari Bu Mega terkait rekomendasi sebagai Cawagub?

Pesan beliau jelas, menjaga agar Jawa Tengah tetap kondusif. Jika Jawa Tengah kondusif maka NKRI akan tentram dan damai. Pesan Bu Mega sama persis dengan pesan dari ayahanda saya, Mbah Moen. Beliau berpesan agar Pilgub Jawa Tengah bisa menjadi menjadi contoh bagi propinsi-propinsi yang lain. Beliau meminta kepada saya, dan kita semua, agar Pilkada berjalan tentram, adem ayem.

Bisa diceritakan proses dari awal sehingga akhirnya Ganjar-Yasin disatukan oleh rekomendasi?

Ganjar Pranowo dan Gus Yasin
usai daftarkan diri di Gedung
KPUD Jawa Tengah. (Dok. Johan Ies Wahyudi)

Jadi begini, antara PDI Perjuangan dan kalangan pesantren itu ada banyak kemiripannya. Jadi ketika dijodohkan atau dipasangkan prosesnya mudah. Ketika kami dijodohkan, kami saling tidak mengetahui satu sama lain. Yaaa….ibarat Siti Nurbaya yang ketika dijodohkan tak kenal siapa pasangannya. Dalam tradisi pesantren, banyak santri yang dijodohkan dengan sesama santri (laki-laki dan perempuan) untuk dinikahkan tetapi belum saling tahu siapa yang akan menjadi pasangannya. Setelah ijab kabul barulah mulai saling mulai mengenali pasangannya. Kalau dengan Mas Ganjar, saya sudah kenal sebelumnya. Sudah sering duduk bahas program bersama. Jadi ya ketika dipasangkan sudah tinggal saling meng-klik-kan.

Beredar kabar bahwa Gus Yasin sempat ‘dilamar’ oleh Sudirman Said untuk menjadi pasangan beliau dalam Pilgub kali ini?

Taj Yasin Maimun bersilaturahmi ke rumah
keluarga almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
di Ciganjur, Jakarta Selatan (17/1/2018)

Saya rasa itu sudah masa lalu. Bagi saya, lobi-lobi dalam politik itu hal yang biasa. Sempat ada rumor bahwa keluarga Mbah Moen pecah. Itu tidak benar. Di keluarga kami, bukan hanya saya yang menekuni dunia politik. Kakak-kakak saya juga ada yang menjadi politisi. Jadi, terkadang kami berbeda pendapat. Namun ketika Mbah Moen sudah memutuskan maka kami semua bersatu. Insya Allah semua mendukung keputusan Mbah Moen untuk meminta saya mendampingi Mas Ganjar.

Dalam Pilgub Jateng kali ini, kandidat Cawagub sama-sama berlatar belakang NU. Apa langkah Gus Yasin agar kalangan NU Jateng mendukung penuh pasangan Ganjar – Yasin?

Saya ini hanyalah salah satu figur yang diberi tugas oleh kiai-kiai NU. Beliau-beliau para ulama, kiai dan habaib berfikir bahwa santri harus punya keterwakilan dalam pemerintahan. Awalnya kan muncul beberapa nama. Selain saya, juga muncul nama kakak saya dan Gus Yusuf (Magelang). Semua nama itu yang memunculkan adalah para kiai. Saya sangat yakin bahwa apabila beliau para kiai sudah berani memunculkan nama maka Insya Allah beliau akan bersama-sama mendukung kami.

Di ‘kubu’ sebelah juga menggandeng kader NU. Bagaimana Gus menyikapinya?

Insya Allah nggak akan ada perpecahan. Saya dan Mbak Ida juga tidak ada masalah, tidak ada perselisihan. Kami asyik-asyik saja, kok. Sebelum rekomendasi turun, kami saling sowan. Kami berdua manut apa pilihan para kiai.

Banyak yang belum mengenal Gus Yasin sehingga mempertanyakan kapasitas Gus Yasin sebagai politisi. Tanggapan Anda?

Taj Yasin menghadiri acara
Rakorwil Partai Persatuan
Pembangunan Pemenangan
Ganjar-Yasin di Hotel Semesta,
Semarang (19/2/2018)

Betul sekali, ada yang bertanya-tanya soal itu. Ada yang berpersepsi karena saya ini berlatar belakang pesantren maka lemah pemahaman soal birokrasi. Yang jelas, saya lahir dan dibesarkan di Jawa Tengah. Selama itu, saya banyak berinteraksi dengan berbagai elemen di Jawa Tengah, termasuk kalangan birokrasi dan pemerintahan. Di dunia politik, saya tekuni mulai dari tingkat bawah. Saya pernah menjadi pengurus PAC PPP di tingkat Kecamatan, pernah menjadi pengurus DPC, dan pengurus DPW. Bahkan pernah aktif ke DPP. Sejak menjadi pengurus di tingkat anak cabang itu, saya saya sudah sering berinteraksi dengan kalangan pemerintahan, di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Saya sudah terbiasa membahas persoalan-persoalan di lapangan dengan beliau-beliau di pemerintahan, tentang bagaimana masyarakat bisa sejahtera; tentang bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Apalagi, ayahanda kami, Mbah Kiai Maimoen senantiasa mengajarkan kepada kami untuk berbakti kepada negara melalui lapangan sosial. Di sekitar dekade 1990-an, kami membantu Mbah Moen untuk membangun bendung-bendung sungai untuk rakyat Rembang, yang sangat berguna ketika musim kemarau. Sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, saya juga menjadi lebih aktif terlibat dalam urusan birokrasi dan pemerintahan.

Bagaimana Gus melihat potensi Jawa Tengah?

Jawa Tengah tergolong propinsi yang maju; termasuk provinsi yang move on jika dibandingkan kanan dan kiri kita: Jawa Timur dan Jawa Barat. Tingkat pertumbuhan ekonomi kita selalu naik. APBD juga selalu naik. Ini tidak terlepas dari peran kaum santri dalam bergerak di lapangan ekonomi. Sebagai kalangan pesantren, kami juga memiliki Himpunan Pengusaha Santri Indonesia atau HIPSI. Di Jawa Tengah juga sudah terbentuk. Di Temanggung dan Magelang, misalnya, teman-teman HIPSI mengelola lahan untuk ditanami singkong. Alhamdulillah hasilnya bagus. Di Magelang, kami juga mengembangkan kampung bahasa Inggris lho.

Jika Tuhan izinkan panjenengan nanti menjadi Wakil Jika Tuhan izinkan panjenengan nanti menjadi Wakil Gubernur mendampingi Mas Ganjar, apa rencana prioritas yang akan diusulkan untuk dilaksanakan?

Saya berdiskusi dengan Mas Ganjar. Kami sepakat bahwa prioritas kami (yang pertama) adalah solusi sehingga angka kemiskinan di Jawa Tengah terus turun. Kedua, pengembangan Madrasah Diniyah, bagaimana agar guru-gurunya bisa lebih sejahtera. Merekalah para penjaga gawang NKRI, yang harus kita perhatikan kesejahteraannya.

Terakhir Gus, sepertinya dalam wawancara ini, Gus menyebutkan bahwa antara PDI Perjuangan dan NU ada begitu banyak kecocokan. Apakah bisa dibilang antara keduanya juga berkembang tradisi yang agak mirip-mirip?

Nah, ini pertanyaan bagus sekali. Saya melihat ada kemiripan antara NU dan PDI Perjuangan dalam hal ketaatan. Di NU, ada yang disebut sam’an wa tha’atan kepada guru. Kami mendengar dan kami taat kepada guru. Tradisi ini saya nilai sama dengan apa yang ada di PDI Perjuangan, yaitu tegak lurus perintah Partai; tegak lurus Bu Mega.

BUDIYONO

LAPORAN: FITO AKHMAD ERLANGGA