Memahami Ruh Islam

0
254
Presiden Soekarno berdoa usai shalat di salah satu masjid di Amerika Serikat. (Foto: Paarnestad photo dan life)
Presiden Soekarno saat menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci tahun 1955. (Foto: Paarnestad photo dan life)

Pernah saya menulis : “Adalah seorang “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi ia tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikit pun jua dari “kitab-fikih”: mati hidup dengan kitab fikih itu. Qur’an dan Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fikih itu sajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri.

Maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada roh, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam di dalam “kitab fiqihnya”saja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup”.

Saya bukan pembenci fikih. Tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fikih. Sebagaimana tiada masyarakat satupun dapat berdiri zonder Wetboek van Stafrecht dan Burgerlijk Wetboek, maka begitu juga tiada peri kehidupan Islam dapat ditegakkan zonder wetboeknya fikih. Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih itu saja, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja.

Presiden Soekarno bersama Haji Agus Salim saat di lokasi pengasingan mereka di Parapat Simalungun, Sumatera Utara 9/2/1949. (Foto:
Paarnestad photo dan life)

Dan sungguh, tuan-tuan, pendapat yang begini bukanlah pendapat saya yang picik ini saja, juga Farid Wadji, juga Muhammad Ali, juga Kwada Kamaludin, juga Amir Ali berpendapat begitu. Farid Wadji pernah berpidato di hadapan kaum Orientalis Eropa tentang arti fiqih itu buah peri kehidupan Islam, dan beliau berkata bahwa fikih belum Islam seluruhnya, dan malahan kadang-kadang sudahlah menjadi satu sistem
yang bertentangan dengan Islam yang sejati”.

Kwaja Kammaludin menulis di dalam ia punya “Evangelie van de Daad”, satu kitab yang dulu saya pujikan keras kepada semua orang Islam dan bukan Islam, sebagai berikut: “Kita hanya ngobrol tentang sembayang dan puasa, dan kita sudah mengira bahwa kita sudah melakukan agama. Khotib-Khotib membuat khotbah rahasia-rahasianya surga dan neraka, atau mereka mengajar kita betapa caranya kita mengambil air wudu’ atau rukun-rukun yang lain, dan itu sudahlah dianggap cukup buat mengerjakan agama. Begitulah jualah keadaannya kitab-kitab agama kita. Tetapi yang demikian itu bukanlah gambaran kita punya agama yang sebenar-benarnya”.

Dan bagaimana perkataan Sayid Amir Ali? Mempelajari kitab-kitab fikih tidaklah cukup buat mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati. Malahan kitab-kitab fiqih itu kadang-kadang berisi hal-hal yang berlawanan dengan rohnya Islam yang sejati.

Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musrik didalam tuan punya pikiran dan perbuatan, maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata: tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walaupun hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambarannya jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulit saja, tidak  mementingkan isi. Terlalu terikat kepada “uiterlijke vormer” saja, tidak menyalakan “intrinsieke waarden”.

Saya meniru perkataan budiman Kwaja Kamaludin : alangkah baiknya kita di sampingnya fikih itu mempelajari juga dengan sungguh ethieknya Qur’an, intrinsieke waardenya Qur’an. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat dimana letaknya garis menarik dan dimana letaknya garis menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenaran perkataan Prof. Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena fatum kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya sistem perundang-undangan dari pada kepada ia punya ajaran jiwa.

Dari Endeh pernah saya tuliskan: “Umumnya kita punya kiyai-kiyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya”, ya, boleh saya katakan kebanyakan tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada agama khususnya saja, terutama sekali bagian fikih. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa, sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka. Paling mujur kyai dan ulama kita hanya mengetahui “tarich Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-bukunya tarich Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern!

Padahal disini, disinilah padang penyelidikan yang maha penting! Apa sebab mundur? Apa sebab bangsa ini di zaman ini begini? Apa sebab bangsa itu di zaman itu begitu? Inilah pertanyaan-pertanyaan maha penting yang harus berputar, terus menerus di dalam kita punya ingatan.

Kita cakap mengaji Qur’an seperti orang maha guru di Mesir, kita kenal isinya kitab-kitab fikih seperti seorang advokat kenal isinya ia punya kitab hukum perdata, kita mengetahui tiap-tiap perintah agama dan tiap-tiap larangan agama sampai yang sekecil-kecilnya, tetapi kita tidak mengetahui betapa caranya Nabi, sahabat-sahabatnya, tabiin-tabiin, kholifah-kholifah mentafsirkan perintah dan larangan-larangan itu didalam urusan sehari-hari dan didalam urusannya negara. Kita sama sekali gelap dan buta buat didalam hal mentafsirkan itu, oleh karena tidak mengenal tarikh. Padahal dari tarikh Islam ini pun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Kita umumnya mempelajari hukum, tetapi tidak mempelajari caranya orang dulu menafsirakan hukum itu.

Dan apakah Pengajaran Besar, yang tarich itu kasihkan kepada kita? Pengajaran Besar tarich ini ialah, bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda diatas angkasa, oleh karena fiqih tidak berdiri sendiri, tetapi ialah disertai dengan tauhid dan ethieknya Islam yang menyala-nyala. Fiqih pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri oleh Rohnya Ethiek Islam serta Tuhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda sembrani yang diatas tubuhnya ada tertulis ayat Qur’an. Fikih ditarik oleh Agama Hidup, dikendarai Agama Hidup, disemangati Agama Hidup : Roh Agama Hidup yang berapi-api dan menyala-nyala! Dengan fiqih yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawati di separuh dunia!

Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan Pengajaran-pengajaran Besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin-pemimpin besar di negeri lain seperti Muhammad Ali, Farid Waddji, Kwadja Kamaludin, Amir Ali dll, yang menghendaki satu geestelijke wedergeboote (kebangunan roh baru) di dalam dunia Islam, jikalau pemuka-pemuka kita itu hanya mau bersifat ulama-ulama fiqh saja, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai Kekuatan Jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan sekarang ini.

(DISARIKAN DARI ARTIKEL BUNG KARNO DI MAJALAH PANJI ISLAM TAHUN 1940)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here